Kanker Serviks, waspadalah

|

By Republika Newsroom
Rabu, 27 Mei 2009 pukul 10:53:00

INFORMASI: Gali informasi sebanyak-banyaknya guna meningkatkan kewaspadaan wanita terhadap risiko kanker serviks.

JAKARTA-- Organ perempuan secara medis memang rentan terhadap penyakit. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Secara medis kanker serviks dikenal sebagai penyakit yang tidak mudah terdeteksi, lebih tepat jika disebut diam-diam menghanyutkan.

Seperti halnya jenis kanker lain, keberadaan atau gejala munculnya kanker kerap menyerupai penyakit biasa. Misalnya, tanda pendarahan pada gejala pada kanker serviks tak berbeda ketika perempuan akan mengalami datang bulan, nyeri pinggul atau mirip dengan gejala keputihan yang mengeluarkan bau tidak sedap serta sulit buang air.

Gejala-gejala seperti itu kerap kali diacuhkan atau dianggap gejala biasa. Sikap waspada dan tanggap merupakan langkah yang dianjurkan dunia medis. Menurut Ahli Ginekolog Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Taufan Widya Utami.

Dia mengatakan, kebanyakan infeksi virus HPV (human papillomavirus) yaitu virus pemicu kanker serviks, ketika masuk stadium awal memang disertai tanpa gejala. Gejala yang dimaksud tak jauh berbeda dengan gejala umum perempuan yang memasuki usia pubertas.

"Biasanya yang telah terkena infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya padaha 10% virus masih tertinggal di vagina perempuan dan diam-diam akan berkembang menjadi kanker serviks," tegasnya saat berbicara dalam seminar Kanker Serviks yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan General Electric Network Women di Jakarta, Selasa (26/5).

Perempuan dikatakan Taufan, terkadang kurang tanggap dengan kondisi seperti itu. Kata dia, 80% wanita akan terkena virus HPV untuk semua tipe virus baik 16,18,31 dan 52 dan 50 % dari perempuan yang terinfeksi virus berpotensi terkena kanker serviks.

Namun, Taufan tidak sepenuhnya menyalahkan kurang tanggapnya perempuan terhadap kanker serviks. Permasalahan kekurangan informasi, ekonomis dan budaya menjadi ganjalan terbesar perempuan Indonesia ketika berhadapan dengan kanker.

Meski perkembangan terakhir, kata Taufan yang merujuk pada WHO (Badan Kesehatan Dunia), di dunia setiap dua menit perempuan meninggal karena kanker serviks sedangkan di Indonesia, setiap sejam perempuan meninggal karena kanker serviks.

Langkah Pencegahan

Data terakhir Indonesia memang belum bisa menunjukan secara konkrit berapa persen sumbangsih kanker serviks terhadap tingkat kematian di Indonesia, Taufan menyarankan agar perempuan Indonesia minimal melakukan dua tahap pencegahan yakni primer dan sekunder.

Pencegahan primer yaitu aktif menggali informasi dan keberanian untuk eksplorasi kesehatan reproduksi. "Kadangkan, perempuan Indonesia malu untuk hal-hal seperti itu. Karena itu penggiatan seminar dan diskusi tentang kesehatan reproduksi perlu dilakukan," tuturnya.

Kemudian, pencegahan sekunder yaitu melakukan pelatihan dan perawatan melalui vaksin dan skrining baik menggunakan metode IFA (Internal Visual with Acitidi Acid atau pencukaan) atau Pap Smear (metode pengambilan sel dari mulut rahim yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop).

Taufan menuturkan, hanya sekitar 70-80% perempuan Indonesia yang melakukan skrining terhadap organ kelaminya. Padahal untuk metode IFA terhitung murah bahkan tanpa perlu rujukan dari dokter, perempuan Indonesia bisa mengiuti metode ini.

Untuk penggunaan metode Pap Smear memang sedikit lebih mahal karena kerumitan tes yang dilakukan. Tapi, Taufan merekomendasikan agar perempuan minimal bisa melakukan tes setahun sekali."Skrining mempunyai manfaat yaitu mengurangi 5 kali lipat potensi kanker," ujarnya.

Terkait dengan tingkat akurasi metode medis yang cenderung tidak 100% diakui Taufan memang berpotensi masalah. Namun ia menggaris bawahi, kalau yang mengikuti metode Pap Smear saja dikatakan negatif masih potensi terkena kanker serviks bagaimana yang tidak.

"Metode Pap Smear memang memiliki kelemahan, karena pada saat pengambilan sampel sel yang menjadi contoh kemudian direndam dalam alkohol, penggunaan kadar alkohol turut berpengaruh. Demikian ketika mengirim spesimen juga menjadi penyebab hasil deteksi negatif palsu," tuturnya.

Namun, Taufan menegaskan, tidak ada salahnya untuk melakukan skrining, ketika merasakan suatu hal kecil atau sepele diharapkan sikap tanggap perempuan untuk segera memeriksakan.

Selain metode Pap Smear atau IFA juga bisa melakukan pemberian vaksin kanker serviks. Pemberian vaksin dimaksudkan untuk menciptakan anti bodi dalam organ reproduksi wanita. Seperti diketahui kondisi organ reproduksi wanita memang rentan terhadap serangan virus dan bakteri.

Jika sejumlah bakteri, kuman, dan virus berada dalam jumlah seimbang tidak masalah. Namun, ketika perempuan mengalami stress, infeksi melalui pasangan dan gaya hidup yang tidak sehat bisa mengacaukan kesimbangan "penghuni" organ reproduksi perempuan.

Indonesia, diakui Taufan, belumlah setanggap negara barat untuk urusan vaksin. Berbagai panduan atau rujukan memang telah dicanangkan oleh Ikatan dokter Indonesia dan organisasi kesehatan lain untuk memberikan vaksin pencegah kanker serviks untuk rentang usia 10-55 tahun. Namun, pemerintah belum bisa memberikan vaksin secara cuma seperti vaksin lain. Padahal di Eropa dan AS, pemerintah masing-masing negara mewajibkan vaksin dengan harga relatif terjangkau masyarakat.

Jadwal pemberian vaksin, paparnya, diberikan bulan pertama, bulan ketiga dan bilan keenam. Disarankan pemberian vaksin dilakukan sebelum melakukan hubungan suami-istri atau diberikan ketika belum terinfeksi.

"Pemberian vaksin efektif melindungi tubuh hingga 5.5 tahun, tapi diingat meski telah meminum vaksi belum tentu menghilangkan potensi kanker serviks. Vaksin apapun itu belum tentu menghilangkan potensi penyakit, vaksin hanya bersifat mencegah bukan menghilangkan," tegas Dr. Taufan.

"Perlu diperhatikan, untuk remaja perempuan hanya diperlukan pemberian vaksin saja. Untuk metode Pap Smear tidak boleh dilakukan untuk remaja perempuan yang belum menikah atau berhubungan suami istri, tidak boleh dilakukan ketika berdarah dan dilakukan setahun sekali bila diperoleh hasil negatif," ucapnya.

Masalah kesehatan memang belum seluruhnya diperhatikan pemerintah. Masalah vaksin dan skrining menjadi bukti kurangnya pemerintah terhadap permasalahan tanggap terhadap organ reproduksi perempuan. AKibatnya, kemudahan untuk mendapatkan jaminan kebutuhan vaksin menjadi semu.

Menurut Taufan, pemerintah belum bisa memberikan subsidi. Disamping itu, penelitian HPV penyebab kanker seviks masih terus dilakukan. Die mengatakan, kelemahan pemerintah seharusnya ditutup dengan sikap tanggap masyarakat terhadap keberadaan kanker serviks sehingga potensi terkena kanker serviks bisa terminimalisir. (cr2/rin)

 

©2009 My Perspective | Template Blue by TNB